Di tengah
sendunya malam, wanita itu menangis. wanita yang disebut Dinda ini tak tau
kemana ia harus mengadukan derita nya. Senyum manis serta canda tawanya tak mampu
lagi tergores di wajahnya. Dentingan waktu seiring berjalan, hanya derai air
mata yang menemaninya. Ia merasa tak mampu lagi menjalani hidup ini. Hidup yang
berat untuk seorang wanita yang selalu menganggap dirinya lemah.
Dua tahun sudah
kekasihnya pergi. Roni namanya. Kekasih hati yang sangat dicintainya harus
pergi begitu saja meninggalkannya. Sang pujaan hati kini berlari menyusuri
jalan surga, dan lama-kelamaan ia mulai tenggelam di samar-samar matahari
terbenam. Dua tahun lalu, di malam itu rasanya Dinda tak mau hidup lagi, ia
hanya mau pergi mengikut kekasihnya meninggalkan dunia ini.
Ia teringat
masa-masa indahnya bersama Roni. Seperti ketika Dinda sedang kecewa, sedih, dan
menangis. Roni selalu datang menghampirinya dengan membawakan sebuah kejutan
kecil lalu mengajaknya pergi jalan-jalan. Atau ketika Dinda sedang sakit, Roni
sang kekasih selalu menemaninya dan merawatnya dengan penuh kasih.
Dinda juga
teringat ketika Roni melamarnya. Saat itu adalah saat paling indah bagi Dinda.
Pagi itu, Roni menaruh sebuah kado untuk Dinda di depan pintu rumahnya. Ketika
itu, Dinda sedang bersiap-siap untuk pergi bekerja. Pada waktu Dinda hendak
berangkat ke kantor, ia membuka pintu rumah nya lalu didapatinya sebuah kado
dan ternyata itu dari kekasihnya. Kado itu berisi gaun cantik berwarna putih dihiasi
pita di dekat lengan gaunnya dan juga bunga pada bagian pinggang gaun tersebut.
Roni juga menuliskan sebuah surat kecil yang diselipkan diantara lipatan gaun
itu. Pada surat itu, Roni meminta Dinda untuk memakai gaun cantik itu ke acara
Dinner mereka malam nanti. Setelah sekitar 10 menit ia membuka kado dan membaca
surat dari Roni, Dinda pun bergegas pergi kekantor. Wajahnya memerah nan ceria
bagaikan bunga-bunga yang bermekaran pad ataman surga. Dinda begitu bahagia
hari itu, ia juga sangat semangat bekerja ketika itu. Ia tak sabar akan memakai
gaun itu lalu pergi makan malam bersama kekasihnya.
Jam menunjukkan
pukul 17.00. Ia pun bersiap untuk pulang dari kantor. Dinda sampai dirumahnya
tepat pukul 18.00. Tanpa buang waktu, ia lalu bergegas untuk mandi. Setelah
mandi, ia lalu bersolek di depan kaca, dipakainya semua alat make-up yang ia
miliki agar terlihat cantik di depan Roni. Setelah berdandan, ia lalu
mengenakan gaun indah itu. Dan benar, Dinda sangat terlihat cantik. Tak lupa
juga ia merapihkan rambutnya yang panjang sebahu itu.
Saat itu
menunjukkan pukul 18.50. Roni pun tiba dirumah Dinda. Dinda pun segera membuka
pintu rumahnya dan menyambut Roni dengan senyuman manisnya. Roni terkejut karna
kekasihnya begitu cantik dengan gaun yang ia belikan. Sungguh hari itu adalah
hari yang spesial untuk pasangan sejoli ini.
Sesampainya di
restoran tersebut, mereka pun turun dari mobil lalu masuk kedalam restoran itu.
Di dalam restoran itu, Dinda terheran, mengapa tak ada satu pelanggan pun yang
makan di restoran itu. Ia pun menanyakan hal itu pada Roni, dan kekasihnya itu
berkata bahwa restoran ini sudah disewa nya untuk mereka berdua.Dinda semakin
bahagia mendengar hal itu.
Tak lama
kemudian, sebelum mereka memakan santapan malam, pelayan di restoran itu
membawakan wine untuk mereka. Bukan hanya itu, para pemain biola pun sudah
disewakan Roni. Malam itu sungguh indah bagi mereka berdua. Setelah meminum
wine, mereka lalu menyantap hidangan makan malam sambil ditemani lantunan biola
yang indah.
Setelah selesai
makan malam, Roni pun menyuruh Dinda untuk menutup matanya. Lalu ia membawa
Dinda ke sebuah taman dibelakang restoran itu. Taman yang bagus. Banyak
bunga-bunga dan lilin-lilin di tepian taman. Semua sudah disiapkan Roni. Tak
hanya itu, Roni juga menyewa pemain piano untuk memainkan lagu kesukaan
sepasang kekasih ini.
Roni lalu
menyuruh Dinda untuk membuka matanya secara perlahan. Dinda begitu terkejut,
didapatinya taman yang selama hidupnya belum pernah dilihatnya taman sebagus
dan seindah itu. Belum lagi dentingan piano memainkan lagu kesukaan mereka.
Dinda terlihat begitu bahagia dengan semua itu. Ia tak tau harus
mengutarakannya dengan kata-kata seperti apa.
Tak lama
kemudian, Roni mengajak Dinda ke tengah taman, lalu ia berlutut dihadapan
kekasihnya yang sangat ia dicintainya itu. Roni mengutarakan seluruh isi hati
nya pada Dinda. Pertanyaan inti dari semua kejutan hari ini akhirnya dinyatakan
oleh Roni. Pertanyaan sekali dan takkan diulanginya lagi, ‘’apakah kau mau
menikah denganku ?’’. dengan pipi merah merona dan sikap tersipu-sipu,
Dinda pun menjawab ‘’ya, aku mau menikah denganmu’’. Lalu Roni memakaikan
cincin di jari manis kekasihnya. Setelah itu Roni berdiri, ia mencium kening
kekasihnya dengan penuh kasih lalu memeluk Dinda dengan erat. Mereka begitu
bahagia karna Tuhan telah memberikan masing-masing dari mereka sebuah cinta
yang begitu kuat antara satu dengan lainnya. Setelah lama berpelukan, mereka
pun bergegas untuk pulang. Jam menunjukkan pukul 20.55. Mereka lalu keluar dari
restoran tersebut dan masuk dalam mobil lalu melakukan perjalanan pulang.
Malam itu sungguh
malam yang benar-benar indah bagi pasangan kekasih ini. Malam yang tak dapat
terlupakan. Malam yang membuat bahagia sekaligus meninggalkan luka yang begitu
dalam. Saat itu rintik hujan mengiringi kepergian kekasihnya. Bagaikan pisau
yang baru saja diasah, tikungan pada jalanan itu begitu tajam. Juga bagaikan
halilintar, mobil dari lawan arah pada saat itu dikemudikan dalam keadaan
kecepatan tinggi. Tabrakan mengenaskan itu akhirnya membuat Dinda kehilangan
separuh hatinya yaitu Roni sang kekasih. Saat itu Dinda hanya mengalami
lecet-lecet pada tangan dan kaki nya, tetapi Roni tak sadarkan diri. Melihat
itu semua, Dinda sangat panik lalu keluar dari mobil tersebut dan meminta
pertolongan masyarakat sekitar.
Warga lalu
mengantar Roni dan Dinda ke Rumah Sakit terdekat. Di perjalanan, Dinda hanya
bisa menangis dan berdoa pada Tuhan agar Roni selamat. Ia tak ingin semua
harapannya bersama Roni hancur lebur begitu saja.
Mereka pun
sampai di Rumah Sakit, lalu Roni dibawa ke ruang UGD oleh perawat-perawat
disana. Dinda dari balik pintu ruangan itu hanya bisa menangis dan berharap
Roni bisa terus bersamanya, Roni bisa selamat.
Pemeriksaan pada
kekasih dari wanita itu hanya segelintir. Baru beberapa menit berada di ruang
UGD, tempat tidur roda yang membawa kekasihnya itu sudah keluar lagi. Kabar
buruk pun diterima oleh Dinda. Kekasihnya tak dapat tertolong. Roni kehilangan
banyak darah dan juga mengalami patah tulang pada banyak bagian tubuh.
Saat itu, Dinda
hanya bisa terdiam, tak percaya bahwa kekasihnya memang benar-benar sudah tak
ada. Ia berharap itu semua hanyalah mimpi buruk belaka. Tapi apa daya, manusia
tak bisa melawan takdirnya. Haru biru terjadi disana. Tangisan melimpah ruah
bagaikan air sungai yang mengalir deras. Orang tua Dinda dan kekasihnya beserta
dengan sahabat-sahabat dekatnya ada disana. Mereka semua tak bisa berpikir
banyak lagi. Sebagai anak, sebagai kekasih serta sebagai sahabat Roni harus
pergi meninggalkan dunia ini. Sempat beberapa kali Dinda tak sadarkan diri dan
harus ditangani juga di Rumah Sakit yang sama.
Sungguh begitu
menyedihkan, harus kehilangan orang yang paling dicintai. Selama dua tahun
kepergian kekasihnya, Dinda tak pernah bangkit dari kesedihannya itu. Setiap
malam di tempat tidurnya, ia hanya bisa memeluk foto Roni dan menangisi
kekasihnya sampai akhirnya ia tertidur. Cinta yang begitu besar pada Roni
membuat Dinda sangat terpukul. Ia tak mau lagi mencari pengganti Roni. Ia
bahkan bertekad untuk tak menikah sampai akhir hidup nya, sampai ia bertemu kembali
dengan sang kekasih yang lebih dulu pergi itu.
Setiap hari
teman-temannya serta orang tuanya berusaha menghibur, memperkenalkannya pada
pria-pria lain, tapi apa daya, sifat keras kepala Dinda susah dikalahkan.
Ditambah lagi dengan cintanya yang begitu kuat pada Roni, membuat Dinda
bersikukuh tak mau lagi kenal dengan pria lain. Sampai detik ini, Dinda masih
menikmati kesendiriannya dibawah bayangan Roni. Tak tau sampai kapan ia akan
terus seperti itu. Tapi semoga saja Dinda bisa bangkit dari kesedihannya. Ia
tak menganggap dirinya lemah lagi dan membuktikan pada dunia bahwa ia memang
bisa bangkita dari masa lalu.
Begitu sakit
ketika rencana kita harus gagal. Tapi kita harus selalu tau bahwa Tuhan ingin
yang terbaik untuk kita. Terkadang rencana kita sering tak sejalan dengan
rencana Tuhan. Tuhan sangat dengan gampangnya mengambil apa yang kita miliki.
Serahkanlah semua kepadaNya, biarlah Ia yang menjaga dan merawat cinta yang
kita miliki. Tuhan pastilah lebih tau apa yang kita butuhkan dan apa yang terbaik
untuk kita. Haruslah juga kita ingat bahwa jodoh, rejeki, hidup dan mati hanya
ada pada tanganNya.
Dengan
cinta,
Nona
Hendrika Valentina