Bonjour! Bienvenue a mon blog!

Saturday, 16 February 2013

Ketika Cinta Harus Dipisahkan…



Di tengah sendunya malam, wanita itu menangis. wanita yang disebut Dinda ini tak tau kemana ia harus mengadukan derita nya. Senyum manis serta canda tawanya tak mampu lagi tergores di wajahnya. Dentingan waktu seiring berjalan, hanya derai air mata yang menemaninya. Ia merasa tak mampu lagi menjalani hidup ini. Hidup yang berat untuk seorang wanita yang selalu menganggap dirinya lemah.

Dua tahun sudah kekasihnya pergi. Roni namanya. Kekasih hati yang sangat dicintainya harus pergi begitu saja meninggalkannya. Sang pujaan hati kini berlari menyusuri jalan surga, dan lama-kelamaan ia mulai tenggelam di samar-samar matahari terbenam. Dua tahun lalu, di malam itu rasanya Dinda tak mau hidup lagi, ia hanya mau pergi mengikut kekasihnya meninggalkan dunia ini. 

Ia teringat masa-masa indahnya bersama Roni. Seperti ketika Dinda sedang kecewa, sedih, dan menangis. Roni selalu datang menghampirinya dengan membawakan sebuah kejutan kecil lalu mengajaknya pergi jalan-jalan. Atau ketika Dinda sedang sakit, Roni sang kekasih selalu menemaninya dan merawatnya dengan penuh kasih.

Dinda juga teringat ketika Roni melamarnya. Saat itu adalah saat paling indah bagi Dinda. Pagi itu, Roni menaruh sebuah kado untuk Dinda di depan pintu rumahnya. Ketika itu, Dinda sedang bersiap-siap untuk pergi bekerja. Pada waktu Dinda hendak berangkat ke kantor, ia membuka pintu rumah nya lalu didapatinya sebuah kado dan ternyata itu dari kekasihnya. Kado itu berisi gaun cantik berwarna putih dihiasi pita di dekat lengan gaunnya dan juga bunga pada bagian pinggang gaun tersebut. Roni juga menuliskan sebuah surat kecil yang diselipkan diantara lipatan gaun itu. Pada surat itu, Roni meminta Dinda untuk memakai gaun cantik itu ke acara Dinner mereka malam nanti. Setelah sekitar 10 menit ia membuka kado dan membaca surat dari Roni, Dinda pun bergegas pergi kekantor. Wajahnya memerah nan ceria bagaikan bunga-bunga yang bermekaran pad ataman surga. Dinda begitu bahagia hari itu, ia juga sangat semangat bekerja ketika itu. Ia tak sabar akan memakai gaun itu lalu pergi makan malam bersama kekasihnya.

Jam menunjukkan pukul 17.00. Ia pun bersiap untuk pulang dari kantor. Dinda sampai dirumahnya tepat pukul 18.00. Tanpa buang waktu, ia lalu bergegas untuk mandi. Setelah mandi, ia lalu bersolek di depan kaca, dipakainya semua alat make-up yang ia miliki agar terlihat cantik di depan Roni. Setelah berdandan, ia lalu mengenakan gaun indah itu. Dan benar, Dinda sangat terlihat cantik. Tak lupa juga ia merapihkan rambutnya yang panjang sebahu itu.

Saat itu menunjukkan pukul 18.50. Roni pun tiba dirumah Dinda. Dinda pun segera membuka pintu rumahnya dan menyambut Roni dengan senyuman manisnya. Roni terkejut karna kekasihnya begitu cantik dengan gaun yang ia belikan. Sungguh hari itu adalah hari yang spesial untuk pasangan sejoli ini.

Sesampainya di restoran tersebut, mereka pun turun dari mobil lalu masuk kedalam restoran itu. Di dalam restoran itu, Dinda terheran, mengapa tak ada satu pelanggan pun yang makan di restoran itu. Ia pun menanyakan hal itu pada Roni, dan kekasihnya itu berkata bahwa restoran ini sudah disewa nya untuk mereka berdua.Dinda semakin bahagia mendengar hal itu.

Tak lama kemudian, sebelum mereka memakan santapan malam, pelayan di restoran itu membawakan wine untuk mereka. Bukan hanya itu, para pemain biola pun sudah disewakan Roni. Malam itu sungguh indah bagi mereka berdua. Setelah meminum wine, mereka lalu menyantap hidangan makan malam sambil ditemani lantunan biola yang indah.


Setelah selesai makan malam, Roni pun menyuruh Dinda untuk menutup matanya. Lalu ia membawa Dinda ke sebuah taman dibelakang restoran itu. Taman yang bagus. Banyak bunga-bunga dan lilin-lilin di tepian taman. Semua sudah disiapkan Roni. Tak hanya itu, Roni juga menyewa pemain piano untuk memainkan lagu kesukaan sepasang kekasih ini.

Roni lalu menyuruh Dinda untuk membuka matanya secara perlahan. Dinda begitu terkejut, didapatinya taman yang selama hidupnya belum pernah dilihatnya taman sebagus dan seindah itu. Belum lagi dentingan piano memainkan lagu kesukaan mereka. Dinda terlihat begitu bahagia dengan semua itu. Ia tak tau harus mengutarakannya dengan kata-kata seperti apa.

Tak lama kemudian, Roni mengajak Dinda ke tengah taman, lalu ia berlutut dihadapan kekasihnya yang sangat ia dicintainya itu. Roni mengutarakan seluruh isi hati nya pada Dinda. Pertanyaan inti dari semua kejutan hari ini akhirnya dinyatakan oleh Roni. Pertanyaan sekali dan takkan diulanginya lagi, ‘’apakah kau mau menikah denganku ?’’. dengan pipi merah merona dan sikap tersipu-sipu, Dinda pun menjawab ‘’ya, aku mau menikah denganmu’’. Lalu Roni memakaikan cincin di jari manis kekasihnya. Setelah itu Roni berdiri, ia mencium kening kekasihnya dengan penuh kasih lalu memeluk Dinda dengan erat. Mereka begitu bahagia karna Tuhan telah memberikan masing-masing dari mereka sebuah cinta yang begitu kuat antara satu dengan lainnya. Setelah lama berpelukan, mereka pun bergegas untuk pulang. Jam menunjukkan pukul 20.55. Mereka lalu keluar dari restoran tersebut dan masuk dalam mobil lalu melakukan perjalanan pulang.

Malam itu sungguh malam yang benar-benar indah bagi pasangan kekasih ini. Malam yang tak dapat terlupakan. Malam yang membuat bahagia sekaligus meninggalkan luka yang begitu dalam. Saat itu rintik hujan mengiringi kepergian kekasihnya. Bagaikan pisau yang baru saja diasah, tikungan pada jalanan itu begitu tajam. Juga bagaikan halilintar, mobil dari lawan arah pada saat itu dikemudikan dalam keadaan kecepatan tinggi. Tabrakan mengenaskan itu akhirnya membuat Dinda kehilangan separuh hatinya yaitu Roni sang kekasih. Saat itu Dinda hanya mengalami lecet-lecet pada tangan dan kaki nya, tetapi Roni tak sadarkan diri. Melihat itu semua, Dinda sangat panik lalu keluar dari mobil tersebut dan meminta pertolongan masyarakat sekitar.

Warga lalu mengantar Roni dan Dinda ke Rumah Sakit terdekat. Di perjalanan, Dinda hanya bisa menangis dan berdoa pada Tuhan agar Roni selamat. Ia tak ingin semua harapannya bersama Roni hancur lebur begitu saja.

Mereka pun sampai di Rumah Sakit, lalu Roni dibawa ke ruang UGD oleh perawat-perawat disana. Dinda dari balik pintu ruangan itu hanya bisa menangis dan berharap Roni bisa terus bersamanya, Roni bisa selamat.

Pemeriksaan pada kekasih dari wanita itu hanya segelintir. Baru beberapa menit berada di ruang UGD, tempat tidur roda yang membawa kekasihnya itu sudah keluar lagi. Kabar buruk pun diterima oleh Dinda. Kekasihnya tak dapat tertolong. Roni kehilangan banyak darah dan juga mengalami patah tulang pada banyak bagian tubuh. 

Saat itu, Dinda hanya bisa terdiam, tak percaya bahwa kekasihnya memang benar-benar sudah tak ada. Ia berharap itu semua hanyalah mimpi buruk belaka. Tapi apa daya, manusia tak bisa melawan takdirnya. Haru biru terjadi disana. Tangisan melimpah ruah bagaikan air sungai yang mengalir deras. Orang tua Dinda dan kekasihnya beserta dengan sahabat-sahabat dekatnya ada disana. Mereka semua tak bisa berpikir banyak lagi. Sebagai anak, sebagai kekasih serta sebagai sahabat Roni harus pergi meninggalkan dunia ini. Sempat beberapa kali Dinda tak sadarkan diri dan harus ditangani juga di Rumah Sakit yang sama. 

Sungguh begitu menyedihkan, harus kehilangan orang yang paling dicintai. Selama dua tahun kepergian kekasihnya, Dinda tak pernah bangkit dari kesedihannya itu. Setiap malam di tempat tidurnya, ia hanya bisa memeluk foto Roni dan menangisi kekasihnya sampai akhirnya ia tertidur. Cinta yang begitu besar pada Roni membuat Dinda sangat terpukul. Ia tak mau lagi mencari pengganti Roni. Ia bahkan bertekad untuk tak menikah sampai akhir hidup nya, sampai ia bertemu kembali dengan sang kekasih yang lebih dulu pergi itu.

Setiap hari teman-temannya serta orang tuanya berusaha menghibur, memperkenalkannya pada pria-pria lain, tapi apa daya, sifat keras kepala Dinda susah dikalahkan. Ditambah lagi dengan cintanya yang begitu kuat pada Roni, membuat Dinda bersikukuh tak mau lagi kenal dengan pria lain. Sampai detik ini, Dinda masih menikmati kesendiriannya dibawah bayangan Roni. Tak tau sampai kapan ia akan terus seperti itu. Tapi semoga saja Dinda bisa bangkit dari kesedihannya. Ia tak menganggap dirinya lemah lagi dan membuktikan pada dunia bahwa ia memang bisa bangkita dari masa lalu.
Begitu sakit ketika rencana kita harus gagal. Tapi kita harus selalu tau bahwa Tuhan ingin yang terbaik untuk kita. Terkadang rencana kita sering tak sejalan dengan rencana Tuhan. Tuhan sangat dengan gampangnya mengambil apa yang kita miliki. Serahkanlah semua kepadaNya, biarlah Ia yang menjaga dan merawat cinta yang kita miliki. Tuhan pastilah lebih tau apa yang kita butuhkan dan apa yang terbaik untuk kita. Haruslah juga kita ingat bahwa jodoh, rejeki, hidup dan mati hanya ada pada tanganNya.

Dengan cinta,

Nona Hendrika Valentina


No comments:

Post a Comment